Dulu Heboh, Sekarang Sepi
Masih ingat zaman keemasan game blockchain? Dulu, rasanya setiap hari ada saja berita tentang game baru yang menjanjikan cuan melimpah, pakai teknologi NFT, dan tentu saja, berbasis blockchain. Saya sendiri sempat lirik-lirik beberapa proyek, tergoda dengan konsepnya yang unik dan potensi penghasilan pasif. Jujur saja, melihat gamer bisa ‘dibayar’ saat bermain itu terdengar seperti mimpi jadi kenyataan, kan?
Nah, belakangan ini, kabar yang datang justru berlawanan. Satu per satu studio pengembang game berbasis blockchain dilaporkan menutup usahanya. Berita soal penutupan studio game blockchain ini memang bukan hal baru lagi, tapi melihat trennya yang terus berlanjut membuat saya bertanya-tanya: apa yang sebenarnya terjadi?
Jatuh Bangun Tren Crypto
Sepertinya, ini adalah siklus alami dari dunia crypto dan teknologi yang lagi hype. Ingat waktu ICO (Initial Coin Offering) merajai pasar? Banyak sekali proyek yang muncul, menjanjikan masa depan cerah, tapi ujung-ujungnya banyak yang gagal atau bahkan scam. Setelah itu, NFT meledak, diikuti dengan game blockchain. Masing-masing punya masanya sendiri.
Menurut saya, isu utama yang dihadapi game blockchain bukan semata-mata karena teknologinya jelek. Masalahnya lebih kompleks. Pertama, soal user experience. Banyak game blockchain yang terasa kurang ‘gamey’. Kontrolnya kaku, grafisnya standar, dan yang paling penting, prosesnya rumit. Membeli crypto, membuat wallet, menghubungkan ke game, belum lagi biaya transaksi yang kadang bikin dompet menjerit. Bandingkan dengan game tradisional yang tinggal klik ‘download’ dan main.
Lebih dari Sekadar ‘Cuan’
Kedua, fenomena ‘play-to-earn’ yang dulu jadi daya tarik utama, kini mulai dilihat dari sisi lain. Awalnya, orang tertarik karena bisa dapat uang. Tapi, kalau gamenya sendiri tidak seru, buat apa? Banyak pemain yang justru lebih fokus pada profit, bukan pada kesenangan bermain. Ini membuat ekosistemnya jadi tidak sehat. Ketika harga crypto turun, atau insentif pemain berkurang, banyak yang langsung kabur. Jadilah, seperti yang kita lihat sekarang, banyak studio yang kesulitan bertahan.
Kebetulan, teman saya dulu pernah investasi di salah satu game blockchain yang cukup populer. Awalnya dia semangat banget, main tiap hari, sampai bisa beli item langka senilai jutaan rupiah. Tapi, ketika tren mulai pudar dan harga token gamenya anjlok parah, dia akhirnya memilih berhenti. Dia bilang, capek juga kalau harus terus-terusan memikirkan nilai aset di game, daripada menikmati permainannya sendiri. Pengalaman ini makin menguatkan pandangan saya bahwa game blockchain harusnya punya nilai hiburan yang kuat, bukan sekadar mesin pencetak uang.
Masa Depan yang Masih Abu-abu?
Jadi, apakah ini akhir dari segalanya? Saya rasa belum tentu. Teknologi blockchain masih punya potensi besar di industri game, tapi mungkin perlu pendekatan yang berbeda. Fokus pada gameplay yang benar-benar asyik, integrasi blockchain yang mulus dan tidak memberatkan pemain, serta model ekonomi yang lebih berkelanjutan. Mungkin bukan lagi ‘play-to-earn’, tapi lebih ke arah ‘play-and-earn’ atau bahkan ‘play-and-own’ di mana pemain benar-benar merasa memiliki aset digital mereka dalam sebuah game yang menyenangkan.
Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda masih mengikuti perkembangan game blockchain? Atau malah sudah kapok duluan seperti beberapa teman saya? Cerita dong di kolom komentar!
Baca juga: