Santuy Dulu! Bitcoin Goyah, Saatnya Cek Ulang ‘Perisai’ Portofolio Kripto Kamu

Harga Bitcoin sempat menembus angka psikologis $64.000, bikin deg-degan. Yuk, kita lihat gimana cara jaga aset kripto kita saat pasar lagi 'joget' nggak karuan.
1 Min Read 0 15

Pasar Kripto Lagi Capek Nih?

Duh, semalam kayaknya banyak yang begadang mantengin chart kripto ya? Jujur saja, pas liat Bitcoin kok kayaknya agak melorot sedikit, tembus ke bawah $64.000. Langsung deh, alarm di kepala saya nyala: “Ada apa nih?” Memang sih, pasar kripto itu ibarat roller coaster, kadang bikin seneng terbang tinggi, kadang bikin sesek napas jungkir balik. Nah, kejadian kayak gini nih yang bikin kita perlu siap siaga.

Banyak yang bilang, pergerakan harga yang lagi agak anjlok ini dipicu sama sentimen makroekonomi global. Ya, kayak isu inflasi, kebijakan bank sentral, atau ketegangan geopolitik. Semuanya nyambung lho ke aset digital kayak Bitcoin. Kalau para ‘pemain besar’ di pasar saham lagi mikir keras mau naruh duit di mana, biasanya duit yang ‘nganggur’ itu cari aman dulu, nggak sedikit yang keluar dulu dari aset yang dianggap agak berisiko, termasuk kripto. Makanya, kita sering lihat harga Bitcoin dan kawan-kawannya ikut ketarik ke bawah.

Jangan Panik, Saatnya ‘Upgrade’ Kacamata Investasi!

Terus, apa dong yang bisa kita lakuin sebagai investor kripto, terutama yang masih baru atau yang pegang aset lumayan banyak? Nah, di sinilah pentingnya punya strategi yang jitu. Kalau saya pribadi, momen kayak gini justru jadi ajang ‘filterisasi’ portofolio. Coba deh, buka dompet kripto kamu. Aset apa aja yang lagi kamu pegang? Apakah semuanya terpengaruh signifikan? Atau ada beberapa yang lumayan ‘bandel’ alias stabil?

Menurut saya, ini waktu yang tepat buat mengevaluasi ulang. Kripto itu kan beragam banget. Ada Bitcoin dan Ethereum yang cenderung lebih ‘mapan’ (meski tetap fluktuatif ya), ada juga altcoin-altcoin lain yang teknologinya canggih tapi risikonya bisa lebih tinggi. Coba deh, kalau ada aset yang kamu pegang tapi kamu sendiri nggak ngerti banget cara kerjanya atau fundamentalnya gimana, nah, ini saatnya riset lagi. Ibaratnya, jangan sampai kamu beli kucing dalam karung, terus pas karungnya digoyang-goyang, kamu malah ketakutan.

Jangan sampai kita jadi korban ‘FOMO’ (Fear Of Missing Out) saat naik, terus jadi korban ‘FUD’ (Fear, Uncertainty, Doubt) saat turun. Yang paling penting, investasi kripto itu harus sesuai dengan profil risiko kamu. Kalau kamu tipe yang nggak tahan lihat merah sedikit aja di layar, mungkin porsi kripto di portofolio kamu terlalu besar. Coba deh, pikirkan lagi, berapa persen dari total aset kamu yang dialokasikan ke kripto? Kalau misalnya 10% itu masih oke lah buat sebagian orang, tapi kalau sudah 70% dan kamu masih kerja keras, wah, kayaknya perlu dipertimbangkan lagi.

Diversifikasi Itu Kunci, Bukan Cuma Omong Kosong!

Ngomong-ngong soal portofolio, jangan lupa juga sama yang namanya diversifikasi. Tapi bukan cuma diversifikasi di dalam kripto aja ya. Maksud saya, jangan cuma punya banyak koin tapi semuanya dari sektor yang sama, misalnya DeFi semua. Cobalah sebarin juga ke sektor lain, seperti NFT, layer-1, atau bahkan pikirkan diversifikasi di luar kripto. Mungkin ada yang bilang, “Ah, susah banget nyari aset lain yang potensinya kayak kripto.” Ya, memang, tapi risiko adalah bagian dari imbal hasil. Kalau mau potensi tinggi, ya siap-siap terima risiko yang juga tinggi.

Kebetulan banget, beberapa bulan lalu saya sempat nyoba investasi di salah satu produk investasi yang lebih tradisional, sekadar buat ‘angin-anginan’. Ternyata, walaupun pertumbuhannya nggak se-fantastis kripto kalau lagi bullish, tapi pas pasar kripto lagi bergejolak kayak gini, aset yang lebih stabil itu lumayan jadi penyeimbang. Rasanya lebih tenang aja lihatnya. Jadi, punya ‘jalan tikus’ lain di luar kripto itu penting, biar nggak terlalu bergantung sama satu jenis aset aja.

Oh iya, satu lagi yang sering dilupakan: manajemen risiko. Ini bukan cuma soal diversifikasi. Tapi juga soal kapan kamu mau ambil untung (take profit) dan kapan kamu siap terima kerugian (stop loss). Kalau kamu punya target harga yang jelas untuk jual sebagian asetmu pas untung, atau batas maksimal kerugian yang bisa kamu toleransi, itu bakal bantu banget mengendalikan emosi. Saya pernah nih, nggak pasang stop loss di salah satu altcoin. Pas harganya anjlok, bukannya jual rugi sedikit, malah saya pertahankan, eh tahu-tahu turunnya makin parah. Nyeselnya dobel!

Secara, Kita Tetap Haris Punya Rencana Jangka Panjang

Intinya sih, kejadian kayak Bitcoin yang menembus angka tertentu itu bukan akhir dunia. Justru, ini jadi pengingat buat kita semua. Pasar kripto memang penuh kejutan, tapi dengan persiapan yang matang, riset yang rajin, dan strategi yang jelas, kita bisa lebih tenang menghadapinya. Gimana menurut kamu? Punya pengalaman serupa saat pasar lagi ‘goyang’? Atau ada tips lain yang mau dibagi?

Baca juga:

editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *