Sebutkan Akar Masalah Bitcoin Turun, Bukan Sekadar Fundamental
Secara umum, ketika harga Bitcoin atau aset kripto lainnya menurun drastis, banyak orang langsung menghubungkannya dengan fundamental proyek yang bersangkutan. Ada pula yang menyalahkan sentimen pasar negatif, regulasi yang ketat, atau bahkan aksi jual besar-besaran oleh para paus. Tapi, apa jadinya jika penyebab sebenarnya bukan dari semua itu? Michael Saylor, seorang veteran di industri Bitcoin, baru-baru ini memberikan pandangannya yang cukup mengejutkan.
Bayangkan saja, kita selama ini sibuk menganalisis laporan keuangan (jika ada!), memantau berita global, dan mengira masalahnya ada di sana. Padahal, menurut Saylor, ada faktor lain yang lebih mendasar, yang jarang dibicarakan orang awam. Dia tidak secara gamblang menyebut “penyebabnya adalah X”, tetapi lebih ke arah pola perilaku yang memicu penurunan. Ini menarik, karena biasanya kita disodori analisis fundamental yang kompleks. Jujur saja, terkadang saya juga bingung membedakan mana berita yang benar-benar berdampak fundamental dengan sekadar riak-riak pasar.
Bukan Fundamental, Lalu Apa? Ketergantungan dan Likuiditas
Nah, Saylor rupanya menyoroti dua hal utama: ketergantungan pasar pada likuiditas global dan reaksi berantai yang terjadi ketika likuiditas tersebut mengering. Pendek kata, ketika bank sentral di negara-negara besar seperti Amerika Serikat mulai mengetatkan kebijakan moneter (misalnya menaikkan suku bunga), uang yang tadinya mengalir deras ke aset berisiko seperti Bitcoin, mulai ditarik kembali. Ini bukan berarti Bitcoin jadi jelek atau fundamentalnya rusak. Tidak sama sekali.
Ini lebih mirip fenomena kebanjiran lalu surut. Ketika ada banyak air, semua perahu bisa mengapung tinggi. Tapi begitu air surut, perahu-perahu itu akan terdam. Begitulah gambaran Saylor soal likuiditas. Ketika likuiditas global tinggi, dana mudah mengalir ke mana-mana, termasuk ke Bitcoin. Sebaliknya, saat likuiditas menipis, investor cenderung menarik dana dari aset yang dianggap lebih berisiko untuk mengamankan pokok investasi mereka. Bitcoin, dengan volatilitasnya, menjadi salah satu yang pertama terdampak.
“Itu bukan salah fundamental Bitcoin. Itu adalah respon dari pasar terhadap pengetatan moneter global dan hilangnya likuiditas. Ketika likuiditas mengalir keluar dari aset sebagai kelas, maka Bitcoin akan terpengaruh,” jelasnya beberapa waktu lalu.
Dampak Psikologis dan FOMO Terbalik
Menariknya, di luar faktor likuiditas yang teknis, ada juga efek psikologis yang diperkirakan Saylor. Ketika pasar mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan, rasa takut akan kehilangan (fear of missing out/FOMO) yang tadinya mendorong kenaikan, berubah menjadi rasa takut kehilangan uang (fear of losing money). Investor yang tadinya optimis malah panik, lalu ikut menjual aset mereka. Ini menciptakan spiral penurunan yang terkadang berlebihan dibandingkan nilai intrinsik aset itu sendiri. Saya pernah mengalaminya sendiri saat awal-awal terjun ke crypto. Panik melihat harga turun, ikut jual rugi, eh tahu-tahu beberapa bulan kemudian malah naik lagi. Pelajaran berharga soal emosi.
Pandangan Kritis dan Jangka Panjang
Menurut saya, apa yang disampaikan Michael Saylor ini memberikan perspektif yang sangat berharga. Kita tidak sepatutnya secara membabi buta menyalahkan fundamental setiap kali ada penurunan. Ada dinamika makroekonomi global dan psikologi pasar yang bermain di belakang layar. Bitcoin, meskipun punya teknologi revolusioner dan potensi adopsi yang terus tumbuh, tetaplah sebuah aset yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi secara umum. Namun, ini tidak berarti Bitcoin akan hilang atau gagal. Justru, koreksi seperti ini bisa menjadi fase pembersihan yang sehat, memisahkan investor jangka panjang yang percaya pada visi teknologi ini dari para spekulan jangka pendek.
Bagaimana menurut Anda? Apakah Anda sepakat dengan pandangan Michael Saylor ini? Atau ada faktor lain yang menurut Anda lebih dominan dalam mendorong penurunan Bitcoin?
Baca juga: