Dulu Katanya Bebas Calo, Sekarang Malah…
Saya masih ingat banget euforia awal kemunculan Bitcoin dan kawan-kawannya. Rasanya tuh kayak menemukan jalan pintas rahasia. Semuanya dijual-belikan langsung antar pengguna, tanpa perlu bank, tanpa perlu broker saham, tanpa perlu perantara lain yang biasanya bikin ribet dan ngambil untung. Konsep disintermediation ini jadi jualan utamanya. Kata orang, ini revolusi. Uang jadi milik kita sepenuhnya, transaksi jadi lebih cepat, biaya lebih murah. Siapa yang nggak kepincut? Rasanya dunia keuangan bakal berubah total.
Nah, tapi coba kita lihat sekarang. Kebetulan saya juga ada main-main sedikit di dunia NFT beberapa waktu lalu. Awalnya sih optimis, mau beli karya seni digital dari seniman independen langsung. Tapi ternyata, jalan nggak semulus itu. Masih aja ada pihak-pihak yang jadi semacam ‘gerbang’ utama. Entah itu platform marketplace-nya yang gede banget, atau bahkan beberapa grup komunitas influentional yang punya daya tawar tinggi. Yang tadinya katanya mau bebas monopoli, eh malah muncul ‘raja’ baru di masing-masing ceruk.
Siapa Saja Para ‘Makelar’ Baru Ini?
Kalau dipikir-pikir, ini bukan cuma soal marketplace NFT aja lho. Di dunia DeFi (Decentralized Finance) sekalipun, yang katanya paling murni semangat desentralisasinya, tetap ada pemain besar yang punya pengaruh signifikan. Sebut saja platform lending atau exchange terkemuka. Biarpun teknologinya pakai blockchain, transaksi nggak lagi benar-benar peer-to-peer murni kayak dulu dibayangkan. Kita tetap harus pakai aset kita dulu di platform mereka, baru bisa dipinjamkan atau diperdagangkan.
Ada lagi fenomena influencer crypto atau grup analis yang punya suara kuat. Mereka nggak secara langsung memegang uang kita, tapi rekomendasi atau analisis mereka seringkali jadi penentu banyak orang untuk beli atau jual aset tertentu. Tanpa sadar, mereka jadi perantara informasi yang sangat kuat, dan tentu saja, punya kepentingan di balik itu.
Perlu Nggak Sih Mereka?
Jujur saja, kadang saya bingung. Di satu sisi, kehadiran perantara baru ini bikin semuanya jadi lebih mudah diakses buat orang awam kayak saya. Kalau mau trading koin atau beli NFT, buka satu aplikasi platform itu jauh lebih praktis daripada harus ngurusin segala sesuatu dari nol pakai kode atau interface yang rumit. Mereka menyediakan infrastruktur, keamanan (meskipun nggak 100% aman kadang), dan user experience yang lebih ramah.
Tapi di sisi lain, ini mengingatkan saya pada pasar tradisional. Dulu para petani sering mengeluh soal tengkulak yang mengambil banyak untung. Sekarang, di dunia crypto yang katanya futuristik, kok polanya mirip-mirip? Para pedagang besar di marketplace, developer platform besar, atau bahkan validator di jaringan blockchain tertentu, mereka punya kekuatan tawar yang sangat besar. Mereka bisa menetapkan biaya, memengaruhi likuiditas, bahkan terkadang punya kendali lebih besar ketimbang pengguna individu.
Lalu, Apa Arti Janji Awal Crypto?
Menurut saya, ini jadi pengingat bahwa teknologi secanggih apapun, kalau melibatkan interaksi manusia, tendensi untuk membentuk struktur dan hirarki itu susah dihindari. Keinginan untuk efisiensi, kemudahan, dan kadang, keuntungan pribadi, seringkali mendorong munculnya pemain-pemain baru yang mengambil peran sentral.
Ini bukan berarti crypto gagal total ya. Desentralisasi di beberapa aspek memang berhasil bikin transaksi lebih transparan dan memotong jalur birokrasi yang nggak perlu. Tapi, narasi ‘tanpa perantara sama sekali’ itu ternyata memang agak terlalu idealis. Mungkin yang lebih realistis adalah perantara yang berbeda, perantara yang lebih transparan, atau perantara yang kekuasaannya lebih terdistribusi. Tapi kalau ditanya sekarang, apakah kita sudah benar-benar bebas dari perantara? Saya rasa, belum sepenuhnya.
Bagaimana menurut Anda? Pernahkah Anda merasa ada ‘calo’ baru di dunia crypto yang Anda geluti? Share dong pengalaman Anda di kolom komentar!
Baca juga: