AI + Blockchain: Kata Pengusung Crypto yang Sering Kita Dengar, Tapi Kok Para Ahli Masih Ragu?

Banyak promotor crypto berkoar soal blockchain sebagai masa depan AI. Tapi, kalau dilirik para peneliti, kok kayaknya belum yakin ya? Mari kita bedah kenapa.
1 Min Read 0 1

Masa Depan AI Katanya Ada di Tangan Blockchain?

Belakangan ini, sering banget kita dengar narasi kalau blockchain itu adalah kunci buat mengembangkan Artificial Intelligence (AI) di masa depan. Para pendukung dan promotor crypto berlomba-lomba menyebarkan optimisme ini. Mereka bilang, teknologi di balik Bitcoin ini bakal jadi fondasi utama buat AI yang lebih canggih, aman, terdesentralisasi, dan segala macam ‘ter’ lainnya. Kedengarannya memang keren, kan? Bayangkan saja, AI yang datanya tidak bisa dimanipulasi, punya transparansi penuh soal cara kerjanya, dan siapa saja bisa berkontribusi tanpa perlu izin dari satu otoritas sentral.

Tapi, kalau kita lihat dari kacamata para peneliti dan ilmuwan AI yang kerjanya memang mendalami teknologi ini, ceritanya agak beda. Menurut mereka, klaim itu masih jauh dari kenyataan. Malah, banyak yang merasa idenya itu agak dipaksakan, atau bahkan sedikit menyesatkan. Kok bisa begitu?

Kenapa Para Ahli Masih Garuk-Garuk Kepala?

Yang jadi pertanyaan pertama buat saya pribadi adalah: memangnya sesulit itu menggabungkan AI dan blockchain? Ternyata, ada beberapa alasan mendasar kenapa para ahli AI belum sepenuhnya yakin. Pertama, soal skala (scalability). Teknologi blockchain, terutama yang sifatnya publik dan terdesentralisasi, itu terkenal lambat dan boros energi. Bandingkan saja dengan jumlah data yang harus diolah AI untuk belajar. AI modern itu butuh pemrosesan data super cepat dan masif. Kalau setiap transaksi atau pembaruan data AI harus dicatat di blockchain, bisa-bisa semua orang keburu pensiun sebelum hasilnya keluar. Ibaratnya, mau balapan pakai mobil F1, tapi mesinnya dipasangi dinamo dari kipas angin. Kompatibel sih, tapi kecepatannya pasti ampun-ampunan.

Kedua, soal biaya. Mencatat setiap langkah AI di blockchain itu berarti butuh biaya transaksi (gas fee) yang lumayan. Bayangkan saja kalau satu model AI baru saja selesai dilatih, triliunan data diproses, lalu semua jejaknya harus dibayar pakai crypto. Wah, bisa jadi lebih mahal biaya operasinya daripada nilai dari AI itu sendiri. Belum lagi kalau blockchain-nya itu masih baru dan belum stabil, harganya bisa fluktuatif parah. Modal awal untuk mengintegrasikan keduanya bisa jadi sangat besar.

Jujur saja, kadang saya merasa promotor crypto itu punya agenda tersendiri. Mereka ingin semua teknologi baru itu harus pakai sentuhan blockchain. Padahal, belum tentu semua butuh. Sama seperti dulu banyak yang bilang setiap aplikasi harus punya fitur sosial media, padahal kan nggak selalu begitu.

Jadi, Apa Saja Bentuk Konkretnya?

Bukannya berarti tidak ada sama sekali potensi kolaborasi antara keduanya, ya. Ada beberapa area di mana blockchain bisa memberikan nilai tambah. Misalnya, untuk menjaga integritas data yang digunakan AI. Bayangkan AI yang dipakai untuk mendeteksi penyakit dari hasil rontgen. Kalau data rontgen itu disimpan di blockchain, kita bisa yakin data itu asli dan tidak diubah-ubah oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Ini penting untuk keakuratan diagnosis AI.

Contoh lain, untuk manajemen digital identity. AI bisa dipakai untuk memverifikasi identitas, dan blockchain bisa menyimpan identitas digital itu dengan aman dan terenkripsi. Jadi, tidak ada lagi kebocoran data pribadi massal. Ada juga proyek-proyek yang mencoba membuat pasar data terdesentralisasi di mana pemilik data bisa menjual aksesnya ke AI dengan aman lewat blockchain, dan mereka mendapatkan kompensasi dalam bentuk token crypto. Ini menarik, karena bisa memberi insentif kepada orang untuk mau berbagi data mereka demi kemajuan AI.

Apa yang Perlu Kita Perhatikan Sebagai Pengguna Crypto?

Nah, kalau kita ini pemakai crypto aktif, atau bahkan berinvestasi di dalamnya, penting banget buat punya pandangan yang jernih. Jangan telan mentah-mentah semua janji manis. Pelajari risetnya, lihat buktinya. Kalau ada proyek yang mengklaim menggabungkan AI dan blockchain, coba deh tanyakan hal-hal ini pada diri sendiri:

  1. Apakah masalah yang coba dipecahkan memang benar-benar butuh solusi blockchain? Atau adakah cara yang lebih sederhana dan efisien?
  2. Bagaimana performa dan biaya transaksinya? Apakah sudah layak untuk penggunaan AI yang masif?
  3. Siapa saja tim di baliknya? Punya pengalaman di bidang AI dan blockchain secara bersamaan atau hanya satu sisi saja?

Menurut saya pribadi, kolaborasi AI dan blockchain itu memang punya potensi, tapi jalannya masih panjang dan penuh tantangan teknis. Yang lebih penting sekarang adalah fokus pada pengembangan AI itu sendiri, dan secara terpisah, terus mencari solusi terbaik untuk skalabilitas dan efisiensi blockchain. Nanti kalau memang sudah matang, baru kita lihat bagaimana kedua teknologi ini bisa saling melengkapi, bukan dipaksakan harus jadi satu dari sekarang. Pendapatmu gimana soal ini?

Baca juga:

Baca juga:

editor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *